Diplomat oh…Diplomat…

Diplomasi merupakan fondasi kenegaraan. Seperti Imam Negara Persia Nizam Al-Mulk (1018-1092) secara bijaksana menasehati rajanya agar memperlakukan seorang duta besar seolah-olah sebagai raja yang mengirimnya. Advice tersebut hingga dewasa ini masih relevan seperti dulu, karena diplomasi adalah salah satu dari sekian alat regulasi yang cukup efektif dalam setting politik dunia yang hampir anarkis ini. Apakah itu dilakukan pada pertemuan puncak kepala-kepala negara atau pada peringkat kedutaan melalui wakil-wakilnya. Diplomasi tetap memberi harapan bagi mereka yang berusaha membangun tertib internasional yang adil.

Pada abad ke 17 satu demi satu di Eropa bermunculan kitab undang-undang prosedur diplomatik yang sangat komlpeks dan terpilah-pilah, yaitu suatu kitab yang dihasilkan akibat adanya kebingungan yang menyangkut soal presiden (yang memiliki hak lebih tinggi) dan protokol. Seringkali pertikaian sengit mengenai masalah status diplomatik, prestise, dan power berubah menjadi semangat jaman. Barulah pada kongres Wina (1815) dan Aix-Chpelle (1818) secara serius diusahakan untuk menyederhanakan klasifikasi agen-agen diplomatik dan formalisasi fungsi-fungsinya. Akhirnya, kira-kira satu setengah abad kemudian, dalam konferensi Wina yang membahas tentang hubungan dan kekebalan diplomatik (1961), yang diikuti oleh 81 negara, suatu kesempatan komprehensif yang meliputi hampir semua aspek kegiatan diplomatik berhasil ditanda tangani.

Diplomasi Indonesia didasari oleh politik luar negeri yang bebas aktif. Politik luar negeri yang bebas aktif pertama kali dikemukakan oleh Mohammad Hatta. Politik luar negeri bebas aktif diawali dengan usaha pencarian jawaban atas pertanyaan konkret:

“have then Indonesian people fighting for their freedom no other course of action open to them than to choose between being pro-Russian or pro-American? The government is of the opinion that position to be taken is that Indonesia should not be a passive party in the arena of international politics but that it should be an active agent entitled to determine its own standpoint. The policy of the Republic of Indonesia must be resolved in the light of its own interests and should be executed in consonance with the situations and facts it has to face.”

Tampak jelas bahwa ide dasar politik luar negeri bebas aktif yang dikemukakan oleh Hatta sama sekali bukan retorika kosong mengenai kemandirian dan kemerdekaan, akan tetapi dilandasi pemikiran rasional dan bahkan kesadaran penuh akan prinsip-prinsip realisme dalam menghadapi dinamika politik internasional dalam konteks dan ruang waktu yang spesifik. Bahkan dalam pidato tahun 1948 tersebut, Hatta dengan tegas menyatakan, percaya akan diri sendiri dan berjuang atas kesanggupan kita sendiri tidak berarti bahwa kita tidak akan mengambil keuntungan daripada pergolakan politik internasional.

Salah satu faktor keberhasilan dan kegagalan diplomasi suatu negara adalah para diplomatnya. Menurut Nicolson ada tujuh persyaratan yang sangat penting dan harus dimiliki oleh para diplomat yang sukses yaitu kebenaran, ketepatan (precision), ketenangan, sifat atau watak yang baik (good temper), rendah hati (modesty), kesabaran (patience) dan kesetiaan. Sebagai tambahan untuk ketujuh persyaratan utama tadi Nicolson menganggap benar bahwa duta besar yang efektif harus memiliki beberapa persyaratan seperti kecerdasan (intelligence), imajinasi, pengetahuan, ketajaman, prudensi (kehati-hatian), keramah tamahan, daya tarik, kerajinan dan tentu saja kebijaksanaan.

Dan apakah kita sudah memiliki diplomat seperti itu??

orang jabatan sebagai duta besar aja dijadiin jabatan politik??
maka nggak aneh kalo kita lebih sering gagal daripada berhasil…
contohnya aja kegagalan moratorium utang indonesia tahun 2005 lalu…
dimana tiba-tiba muncul pernyataan dari menlu (yang tidak berkompeten di bidang ekonomi)

Beliau mengatakan: “Presiden Chirac menyebutkan kemungkinan reduksi utang dan bunga, namun sama sekali tidak menyebut debt relief.” Penyataan itu amat lucu dan memalukan karena debt relief berarti adalah reduksi utang dan bunga.

artikel lengkapnya bisa dilihat di http://estananto.wordpress.com/2005/01/18/skandal-paris-club/

so…para calon diplomat…
punyakah anda kemampuan untuk menjadi diplomat yang baik dan ulung serta berkompeten??
heheheh…

~ by Ira Ratnati on March 15, 2008.

One Response to “Diplomat oh…Diplomat…”

  1. […] Diplomasi merupakan fondasi kenegaraan. Seperti Imam Negara Persia Nizam Al-Mulk (1018-1092) secara … Share ke: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: