Politisasi Olah Raga

Saya sebagai warga negara Indonesia merasa begitu kecewa dengan prestasi indonesia semenjak krisis ekonomi tahun 1997 yang kemudian merambat ke krisis politik di tahun 1998, yang akhirnya melibas semua aspek kehidupan Indonesia termasuk olah raga.

Prestasi para atlet turut melorot seiring melemahnya rupiah terhadap dolar amerika. Seperti tak ada gairah dan mati.

Sebenarnya banyak negara-negara yang keadaannya tidak lebih baik dari negara kita tercinta. Seperti Irak yang berhasil menjadi juara piala Asia dikala negaranya masih berperang, Brazil meskipun keadaan ekonomi dan tingkat kriminalitas tinggi lebih dihargai karena mereka adalah juara dunia sepak bola, Argentina pun tak jauh lebih baik. Tapi kenapa mereka bisa berprestasi lebih baik dari kita? Yang memiliki sumber daya manusia di atas 200juta jiwa?

Apakah sistem yang salah? Ataukah pengelola sistem?Ataukah orang-orang yang berada di dalam sistemnya? Apakah kita hanya akan terus berdalih bahwa alokasi dana APBN terlalu sedikit? Apakah kita akan terus menyalahkan pemerintah? Apakah kita akan terus menyalahkan orang lain?

Saya mendengar pendapat dari beberapa pengurus PB, mereka selalu bilang terhambat pendanaan. Padahal bagi saya pemerintah sudah cukup maksimal dalam memberikan dukungan bagi dunia olah raga, mengingat beban APBN kita terlalu besar, mulai dari subsidi BBM, gaji PNS, dana bencana alam, hutang luar negeri, dan masih banyak lagi beban APBN pemerintah, apa jadinya jika tiap sektor merasakan hal yang serupa?Padahal kita tau bagaimana keadaan APBN kita. Pengelolaan dana yang lebih cerdas benar-benar dibutuhkan.

Disamping itu, olah raga di Indonesia, lebih ditunggangi kepentingan-kepentingan politik. Itulah mengapa kadang kita sulit untuk berkembang. Hampir setiap jabatan strategis di negara kita ini diisi bukan karena kompetensi orang-orang tersebut tetapi malah dijadikan kendaraan politik, walaupun tidak semuanya seperti itu tapi sebagian besar begitu.

Bagaimana seorang kapten bisa membawa kapalnya hingga tujuan jika ternyata sang kapten tak tau arah mana yang akan dituju dan dia juga tidak mencintai kapal dan awaknya?

Itulah yang terjadi saat pos olahraga di isi orang yang tidak mencintai olah raga.

Saya hanya ingin menekankan bahwa olah raga bukanlah politik dan politik bukanlah olah raga. Karena dari prinsip saja mereka sudah bertolak belakang, gimana mau maju? Olah raga yang menjunjung tinggi fair play disandingkan dengan politik yang anda sendiri pasti memiliki persepsi masing-masing tentang politik.

Jadi, pengisian pos olah raga oleh para politisi lebih baik dihentikan sekarang juga, karena jika tidak, mau dibawa kemana olah raga indonesia?

***pernah dipublikasikan melalui situs MBI (Masyarakat Bulutangkis Indonesia)***

~ by Ira Ratnati on March 15, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: